Tahu Murni Bu Hardi, Makanan Tradisional Diolah Secara Higienis

Bagi kebanyakan orang Indonesia, terutama orang Jawa, tahu dan tempe biasa di konsumsi sehari-hari karena bergizi tinggi. Makanan tersebut di buat dari bahan baku kedelai. Pengolahannya pun mudah. Bisa didapatkan di pasar, warung, kios, bahkan sampai ke supermarket. Ada beberapa macam tahu, antara lain : tahu putih (mentah), tahu kuning atau tahu ayu ( untuk bakso, siomay), tahu pong, dan tahu segitiga. Dengan uang Rp 1000 saja sudah bisa mendapatkan tahu beberapa potong sehingga bisa dikatakan harga relatif murah dan terjangkau.


Tahu murni Bu Hardi didirikan oleh Hardi Mulyono tahun 1973 di Dusun Greso Trimurti Srandakan Bantul Yogyakarta. Di dusun tersebut juga ada kelompok “Sumber Rejeki” yang mewadahi para perajin tahu dan tempe untuk membantu dalam pengadaan bahan baku, pengolahan , pemasaran maupun dalam pengolahan limbah. Ketuanya adalah Hardi Mulyono sendiri. Awalnya dengan modal 10 kg kedelai yang digiling biasa kemudian dijual ke pasar-pasar. Dari Deperindag pernah membantu dalam permodalan, teknis pengolahan, dan alat mesin giling ketel untuk memudahkan dalam produksinya. Sampai saat ini ada 15 tenaga kerja pengolahan sampai penggorengan. Bahan bakunya dari kedelai lokal yang langsung dikirim oleh para penjual kedelai dari berbagai daerah di Pulau Jawa.

Dalam perkembangannya, selain tahu, Bu Hardi juga memproduksi tempe. Usahanya kini sudah memiliki ijin dari Depkes RI No 041/12.02/89 .Berkat bantuan pemerintah, proses produksinya sekarang dengan tenaga uap. Sebagai perbandingan, dengan tungku biasa, untuk 5 kg kedelai butuh waktu sekitar 30 menit, dengan ketel tenaga uap hanya membutuhkan 10 -15 menit., Selain itu penggunaan tungku akan membuat sangit kedelai yang diolah. Setiap harinya bisa memasak hampir 4-6 kuintal kedelai, dengan 1 kg kedelai menghasilkan 2 kg tahu putih. Pengolahan limbah dibantu dari Bapedal Kabupaten Bantul dimana limbah dinetralkan dan dibuang, diproses melalui ketel pengolahan limbah, sedangkan ampas limbah untuk pakan ternak.

Bu Hardi sering mengikuti pameran-pameran, antara lain Bantul Ekspo, Alun-Alun Yogyakarta, dan hotel-hotel berbintang. Bu Idham Samawi juga banyak membantu dalam memperkenalkan kepada tamu-tamu dari daerah lain bila ada kunjungan ke Bantul, sebagai produk unggulan dari daerah lokal. Harapan ke depan Hardi Mulyono ingin membawa tahu dan tempe yang nota bene makanan rakyat, bisa diterima kalangan menengah keatas. Di rumahnya yang asri, konsumen bisa melihat langsung proses pembuatan tahu dan tempe dengan tenaga uap dan merasakan makanan olahan tersebut dalam berbagai rasa dan kemasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: