Arsip untuk ‘MAKANAN TRADISIONAL JAWA’ Kategori

Tahu Murni Bu Hardi, Makanan Tradisional Diolah Secara Higienis

Juli 23, 2009

Bagi kebanyakan orang Indonesia, terutama orang Jawa, tahu dan tempe biasa di konsumsi sehari-hari karena bergizi tinggi. Makanan tersebut di buat dari bahan baku kedelai. Pengolahannya pun mudah. Bisa didapatkan di pasar, warung, kios, bahkan sampai ke supermarket. Ada beberapa macam tahu, antara lain : tahu putih (mentah), tahu kuning atau tahu ayu ( untuk bakso, siomay), tahu pong, dan tahu segitiga. Dengan uang Rp 1000 saja sudah bisa mendapatkan tahu beberapa potong sehingga bisa dikatakan harga relatif murah dan terjangkau.


Tahu murni Bu Hardi didirikan oleh Hardi Mulyono tahun 1973 di Dusun Greso Trimurti Srandakan Bantul Yogyakarta. Di dusun tersebut juga ada kelompok “Sumber Rejeki” yang mewadahi para perajin tahu dan tempe untuk membantu dalam pengadaan bahan baku, pengolahan , pemasaran maupun dalam pengolahan limbah. Ketuanya adalah Hardi Mulyono sendiri. Awalnya dengan modal 10 kg kedelai yang digiling biasa kemudian dijual ke pasar-pasar. Dari Deperindag pernah membantu dalam permodalan, teknis pengolahan, dan alat mesin giling ketel untuk memudahkan dalam produksinya. Sampai saat ini ada 15 tenaga kerja pengolahan sampai penggorengan. Bahan bakunya dari kedelai lokal yang langsung dikirim oleh para penjual kedelai dari berbagai daerah di Pulau Jawa.

Dalam perkembangannya, selain tahu, Bu Hardi juga memproduksi tempe. Usahanya kini sudah memiliki ijin dari Depkes RI No 041/12.02/89 .Berkat bantuan pemerintah, proses produksinya sekarang dengan tenaga uap. Sebagai perbandingan, dengan tungku biasa, untuk 5 kg kedelai butuh waktu sekitar 30 menit, dengan ketel tenaga uap hanya membutuhkan 10 -15 menit., Selain itu penggunaan tungku akan membuat sangit kedelai yang diolah. Setiap harinya bisa memasak hampir 4-6 kuintal kedelai, dengan 1 kg kedelai menghasilkan 2 kg tahu putih. Pengolahan limbah dibantu dari Bapedal Kabupaten Bantul dimana limbah dinetralkan dan dibuang, diproses melalui ketel pengolahan limbah, sedangkan ampas limbah untuk pakan ternak.

Bu Hardi sering mengikuti pameran-pameran, antara lain Bantul Ekspo, Alun-Alun Yogyakarta, dan hotel-hotel berbintang. Bu Idham Samawi juga banyak membantu dalam memperkenalkan kepada tamu-tamu dari daerah lain bila ada kunjungan ke Bantul, sebagai produk unggulan dari daerah lokal. Harapan ke depan Hardi Mulyono ingin membawa tahu dan tempe yang nota bene makanan rakyat, bisa diterima kalangan menengah keatas. Di rumahnya yang asri, konsumen bisa melihat langsung proses pembuatan tahu dan tempe dengan tenaga uap dan merasakan makanan olahan tersebut dalam berbagai rasa dan kemasan.

Petis Kangkung, Tradisional Tapi Tetap Eksis.

Juli 23, 2009

Di jaman modern ini, segala sesuatu yang tradisional mulai terabaikan. Lihat saja di beberapa daerah, rumah berarsitekturkan tradisional tak terawat, seni tari dan pertunjukan, sepi penonton. Mereka (masyarakat) yang seharusnya mengapresiasi seni sendiri malah acuh tak acuh hal ini dikarenakan mereka sudah terpengaruh akan budaya modern dalam hal ini budaya barat yang cenderung mengarah ke liberalisme, tak peduli akan aset budaya yang dimiliki Indonesia. Padahal Indonesia kan memiliki berbagai macam budaya yang sangat menawan. Bahkan orang luar banyak yang tertarik dengan budaya di Indonesia (itu kalau dikelola dengan baik).

Sebenarnya ada niatan kita untuk menyukai dan melestarikan budaya sendiri, tapi apa mau dikata, gengsi menjadi sebuah jalan buntu untuk meneruskan niat kita. Kunolah, noraklah, dll’lah adalah tanggapan orang lain yang membikin kita menjadi gengsi sehingga mengurungkan keinginan kita untuk menyukai serta melestarikan seni budaya sendiri.

Untungnya masih ada orang yang peduli dengan produk tradisional Indonesia. Adalah mak’e, penjual janganan keliling, Mak’e tetap setia menjual sayuran tradisional Jawa dari muda sampai setua sekarang, orang seperti beliaulah yang membuat makanan tradisional tetap eksis di era globalisasi sekarang. Tak hanya tetap eksis, ternyata makanan ini tak kalah bersaing dengan makanan-makanan dari luar seperti fried chicken, pizza, hamburger, dll (maaf saya tidak akan menyebutkan merek tertentu kecuali dapet komisi).

Salah satu makanan yang dijual oleh Mak’e adalah petis kangkung. Tak hanya menyehatkan, ternyata petis kangkung juga sangat lezat. Perpaduan rasa manis dan gurih dari petis dengan cita rasa udang, asin, pedas, dan asam dari berbagai bumbu tercampur begitu lembutnya menghasilkan cita rasa khas masakan jawa. Belum lagi ditambahkan tahu, bakwan dan sate keong sebagai pelengkap. Hmmm….membayangkannya membuat saya ingin menikmatinya.

Cara membuatnya cukup mudah. Pertama rebus kangkung sampai layu. Setelah itu siapkan cabe, sedikit bawang merah, bawang putih, garam, terasi, dan gula jawa setelah itu dilumatkan sampai halus. Jangan lupa untuk menambahkan jeruk pecel dan petis. Setelah semuanya siap, campur bumbu dan kangkung hingga merata. Meskipun berwarna hitam jangan remehkan rasanya. mak nyuozz…

Ayam Kremes Nyonya

Juli 23, 2009


Ayam Kremes Nyonya (Tradisional Resep Jawa Asli),
dengan banyak pilihan rasa yang begitu renyah, menggoda, nikmat, dan tak terlupakan, …
seperti ayam kremes Nyonya yang begitu renyah diluar, menggigit rasa dalamnya, Rawon Dengkul Surabaya,
Brengkesan Tongkol Pencit, Mie Goreng Jawa, Nasi Goreng Sosis, Mie Kuah Dok Dok, dan buanya, lagi lainnya..

LISA POERWADI
Nomer HP:   +6285850389988
Nomer Telpon:  +623185850389988
Nomer Faks:  +62318015099
Alamat:  Ramayana Mall, Sidoarjo, 61256 jawa timur, Jawa Timur – Indonesia

Kemasan Makanan Tradisional

Juli 23, 2009

MENGANGKAT DERAJAT MAKANAN TRADISIONAL DENGAN KEMASAN MAKANAN YANG MENARIK

Bandung, sebagai Ibu Kota propinsi Jawa Barat terkenal dengan wisata kulinernya. Aneka ragam makanan mulai dari makanan ringan hingga makana berat, makanan basah hingga makanan kering, banyak terdapat di Bandung. Di Bandung banyak terdapat makanan yang berasal dari daerah yang ada di Jawa Barat, terutama makanan tradisional setempat. Jika ingin mencari makanan khas daerah Jawa barat datanglah ke Bandung. Misalnya dari Garut terkenal dengan dodol Garut, dari Cirebon terkenal dengan kerupuk udangnya, dari Cianjur ada tauco Cianjur, Purwakarta terkenal dengan simping, Sumedang terkenal dengan tahu Sumedang, Cililin dengan wajitnya, oncom terdapat di Pasireungit, Majalaya terkenal dengan borondong, dan banyak lagi daerah-daerah yang memiliki makanan khasnya. Tetapi kita tidak perlu susah-sudah datang ke tempat asalnya, semua itu bisa dengan mudah didapatkan di kota Bandung. Sayangnya, makanan tersebut masih ada yang disajikan alakadarnya sehingga tidak menggugah selera untuk membelinya. Kecenderungan untuk menampilkan makanan tradisional dengan kemasan yang lebih menarik masih kurang diperhatikan. Saat ini masih banyak kemasan makanan tradisional yang belum memenuhi syarat kemasan yang baik. Misalnya wajit Cililin hanya dikemas dengan plastik dan diberi label yang tidak jelas, pada kemasannya tidak terdapat unsur bahan yang terkandung di dalamnya, dan masa kadaluarsa.

Makanan yang dikemas lebih baik akan membuat makanan tersebut tahan lama, dengan demikian masa kadaluarnya akan lebih panjang. Selain itu, makanan yang dikemas lebih baik akan lebih menarik konsumen untuk membelinya, dan mempermudah bagi konsumen untuk membawa dan menyimpannya.

Beberapa alternatif desain kemasan makanan tradisional, seperti salai (sale) pisang dari Buahdua, dan wajit dari Cililin telah dicoba dibuat oleh Ence Memed seorang mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia. Semua desain kemasan makanan tradisional tersebut tidak meninggalkan ciri khas dan unsur-unsur yang ada pada makanan tersebut, agar konsumen merasa tetap dekat dengan bentuk aslinya. Misalnya wajit Cililin dengan desain yang masih dominan menampilkan kemasan wajit yang terbuat dari daun jagung, bahan baku wajit yang terbuat dari beras ketan, warna kemasan mencerminkan rasa wajit yang manis, yaitu dengan ditampilkannya warna kecoklatan seperti warna gula merah. Warna ungu sebagai warna ketan hitam juga dimunculkan untuk menarik minat konsumen kalau wajit tersebut terbuat dari ketan hitam. Agar lebih menarik, kemasan dibubuhi ilustrasi, seperti wajit yang masih dibungkus dengan daun jagung, wajit yang terbuka, kulit padi, bahan wajit seperti kelapa dan gula merah.

Kemasan wajit “Wacil” dalam bentuk tiga dimensi.

Juli 23, 2009

Resep Intip (makanan tradisional Jawa)

Buat yg demen intip, gw kasih resepnya deh (baru nyolong dr TV seh Laughing takarannya kira2 sendiri yah)
1. Tanak nasi 1/2 matang aje.(jadi lembek2 kek bubur gt tapi bukan bubur yah)
2. Nasi yg 1/2 matang dicampur garam.
3. Nasi tsb lalu di bentuk ke pinggiran periuk/panci (dipadatkan ke pinggiran periuk), karena pembuat Intip biasanya menanak nasi dlm jmlh cukup byk jadi perlu banyak periuk utk melakukan langkah ke-3 (jadi masak nasinya dikit aje).
4. Lalu periuk/panci (dgn tutup) yg sudah dipadatkan dgn nasi dibagian pinggiran dalamnya itu di taro diatas api sekitar 10-20 menitan.(waktu kira2)
5. Setelah membentuk kerak, keluarkan kerak tsb, lalu keruk bagian dlm nasi yg masih lembek.
6. Kerak yg sudah dibersihkan tsb lalu diletakkan (biasa seh seharian)/dijemur dgn matahari.
7. Kerak yg telah dijemur tsb lalu digoreng dlm minyak sampai berwarna seperti Intip pada umumnya.
8. Setelah digoreng ya jadi deh, mau dikasih rasa apa juga jadi (biasanya yg rasa manis dikasih gula jawanya pada tahap ini)

Selamat mencoba


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.